Saturday, July 2, 2022
Presentsspot_img
HomeMateri FGDMasa Depan Laut Kita

Masa Depan Laut Kita

Press Release

FGD Teknologi Kelautan dan Kemaritiman

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan dengan sekitar 70 persen wilayahnya terdiri dari perairan laut. Keberadaan sebanyak 17.508 pulau, besar maupun kecil, menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dikelilingi perairan yang begitu laus, sehingga mengutip istilah Bung Karno, “Indonesia ini ibarat negara lautan yang ditaburi pulau-pulau.” Begitu banyaknya pulau-pulau sehingga ada pulau-pulau kecil yang bahkan belum sempat diberi nama.
Bukan saja duapertiga wilayah kita adalah wilayah parairan, tetapi juga kekayaan yang ada di dalam laut kita sangat berlimpah. Jika tidak kita memanfaatkannya sebanyak-banyaknya untuk kesejahtaraan rakyat, maka alangkah bodohnya bangsa ini.
Di bidang pelayaran misalnya, laut kita memberikan peluang bagi pengembangan jasa angkutan pelayaran, baik orang, barang, maupun hasil-hasil alam maupun industri. Pelayaran juga membuka rangkaian usaha dan kegiatan lain, mulai dari pendidikan pelayaran, galangan kapal, serta jasa-jasa pelayaran, sehingga dapat membuka lapangan kerja bagi rakyat.
Demikian pula di bidang perikanan. Kekayaan ikan di wilayah laut kita sangatlah berlimpah, sehingga terjadi berbagai insiden di laut karena adanya berbagai kasus pencurian ikan. Seiring dengan kemajuan untuk membudidayakan ikan, kita juga dapat mengembangkan pula usaha penangkaran ikan di lepas pantai. Harus diingat bahwa hampir semua negara di dunia membutuhkan konsumsi ikan.
Belum lagi di bidang pertanian laut, seperti rumput laut. Jika hasil rumput laut bisa dikelola secara lebih moderen pula, maka tidak mustahil pula kita bisa menghasilkan berbagai bahan untuk kecantikan, serta makanan dan minuman segar. Semua usaha itu tentu saja bisa pula menjadi alternatif untuk membuka kesempatan kerja bagi rakyat.
Di bidang pertambangan, fakta sudah membuktikan bahwa potensi minyak dan gas bumi di bawah dasar laut kita cukup besar. Banyak yang sudah dieksplorasi, tetapi entah berapa lagi yang belum ditemukan. Siapa tahu masih ada pula berbagai kekayaan yang ada di dalam laut kita, misalnya emas, uranium dan titanium. Budidaya mutiara pun bisa membawa pengaruh ekonomi yang berarti bagi rakyat kita.
Harus diingat pula, seiring dengan laju percepatan pertambahan penduduk kita maka bukan mustahil jika pada suatu saat nanti lahan daratan bagi permukiman penduduk kita akan semakin terbatas, sehingga bukan tidak mungkin kita harus mulai memikirkan untuk mengembangkan pemukiman di laut.
Belum lagi di bidang pariwisata yang telah menjadi sorotan, bahkan menjadi idola dunia, bahwa laut Indonesia mempunyai daya tarik wisata yang luar biasa. Ada berbagai lokasi taman laut disertai berbagai terumbu karang yang bisa menjadi obyek wisata bawah laut yang indah. Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga kaya dengan pantai-pantai yang indah dan mempesona, yang telah menjadi obyek wisata yang menarik, baik bagi wisatawan dalam negeri maupun manca negara. Sektor pariwisata inilah yang akan menjadi sektor andalan bagi bangsa kita, jika kita sanggup dan mampu mengembangkannya.
Jika semua kekayaan laut itu mampu kita kelola sendiri secara baik, dengan secara lebih memadai peralatannya, juga dengan memanfaatkan berbagai peluang kemajuan di bidang pengelolaan industri perikanan, maka optimisme kita untuk segera mengentaskan kemiskinan dan menjadikan rakyat hidup berkelayakan sebagai bangsa yang merdeka, kiranya akan segera terwujud.
Perlu disadari bahwa sumber daya alam kita di darat ternyata tidak lagi seberkelimpah seperti kita duga. Sebagian di antaranya malah telah rusak berat dan tidak tidak bisa diperbaiki lagi. Sementara kita masih mempunyai demikian banyak sumber daya di laut, yang dapat kita manfaatkan untuk menghidupi penduduk kita yangb bertambah demikian cepat. Lebih dari itu, bangsa-bangsa lain juga mengetahui kekayaan sumber daya alam kita di laut, dan telah mengeksploitasinya, baik dengan izin, maupun tanpa izin Negara kita. Keadaan demikin jelas tidak dapat dibiarkan berlarut-larut.
Melihat kekayaan laut kita yang begitu melimpah seperti disebutkan di atas, maka kita harus berani mengatakan bahwa masa depan bangsa ini ada di laut. Tidak ada pilihan lain untuk menjadikan laut kita sebagai penopang bagi terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat bangsa ini. Semua kejayaan laut itu harus mulai dikembangkan secara bertahap dan terencan secara baik.
Pertanyaannya adalah, apakah bangsa ini sudah siap dengan tekadnya untuk menjadikan kekayaan laut kita sebagai penopang bagi terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat bangsa ini?

Yang pertama yang kiranya harus dilakukan adalah mengembangkan nilai-nilai kebaharian kepada masyarakat agar bangsa ini memunyai cara pandang dan cara sikap yang berkarakter kebaharian.
Dalam sejarahnya, bangsa Indonesia antara abad ke-7 sampai abad ke-15 terkenal sebagai bangsa pelaut terkemuka, dengan jejaring luas berskala internasional. Kejayaan itu dewasa ini telah begitu merosot, dan menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang bermental kerdil, tanpa armada, tanpa pedagang, tanpa kewirausahaan.
Lebih mencolok lagi, walaupun kita sudah hampir 75 tahun merdeka, namun struktur ekonomi kita masih sama dengan strukur ekonomi daerah jajahan. Yaitu, mengekspor bahan mentah dan membeli barang jadi. Lebih buruk lagi, dalam beberapa hal kita malah mengimpor bahan-bahan mentah dan bahan makanan, yang sebenarnya semuanya kita punya dan seharusnya kita bisa produksi sendiri.
Dari mana memulai dan menjadi tanggungjawab siapa tugas untuk mengembangkan nilai-nilai kebaharian kepada masyarakat agar bangsa ini memunyai cara pandang dan cara sikap yang berkarakter kebaharian, tentulah tidak merupakan hal mudah. Akan tetapi jelas, kita harus memulainya. Kita harus memulainya dengan revolusi berpikir, yakni merubah secara cepat cara pandang atau mind set kita tentang laut/bahari. Bahwa laut itu bukanlah membahayakan, tetapi sesuatu yang harus dikelola untuk sepenuhnya bagi kesejahteraan rakyat.
Banyak masyarakat kita yang berdiam di pinggir pantai, tetapi mereka barulah masyarakat pesisir, belumlah menjadi masyarakat nelayan atau masyarakat pelaut. Kecuali sebagian masyarakat khususnya di daerah Sulawesi bagian Selatan.
Sebagai motivasi untuk membongkar mindset masyarakat kita tentang kebaharian, antara lain dengan melalui upaya-upaya penberdayaan rakyat. Masyarakat harus disadarkan bahwa sumber daya alam kita di darat ternyata tidak lagi seberkelimpah seperti kita duga. Sebagian di antaranya malah telah rusak berat dan tidak tidak bisa diperbaiki lagi. Sementara di laut kita masih memunyai demikian banyak sumber daya, yang dapat kita manfaatkan untuk menghidupi penduduk kita yang trus bertambah demikian cepat.
Lebih dari itu, bangsa-bangsa lain juga mengetahui kekayaan sumber daya alam kita di laut, dan telah mengeksploitasinya, baik dengan izin, maupun tanpa izin Negara kita. Keadaan demikin jelas tidak dapat dibiarkan berlarut-larut.
Kemampuan rakyat untuk mengelola potensi laut harus dikembangkan. Bila ini tidak ditempuh maka nasib bangsa ini akan sama dengan rempah-rempah pada masa lalu, yang semuanya dimanfaatkan oleh bangsa lain. Seluruh potensi laut kita harus kita kelola sendiri. Dalam pengelolaannya harus mempertimbangkan pula kelangsungan atau keberkelanjutannya. Ini tentu membutuhkan perjuangan yang serius. Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya pemberdayaan rakyat.
Tidak ada pilihan lain bagi kita untuk menjadikan laut sebagai penopang bagi terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. Untuk itu maka harus diupayakan agar rakyat memunyai kemampuan mengembangkannya. Setidaknya ada dua hal yang perlu ditempuh untuk itu
Pertama, bagaimana agar rakyat memiliki pengetahuan atau ilmu tentang cara memproduksi. Selama ini hasil-hasil laut kita, dan umumya hasil-hasil bumi kita, diekspor begitu saja tanpa diolah terlebih dahulu sehingga nilai ekonominya sangat rendah. Tidak memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan bangsa ini.
Kedua, berbagai hasil yang diproduksi hendaknya dikemas dengan baik memenuhi standar internasional, dan dikirimkan ke pusat-pusat perdagangan internasional, termasuk ke negara-negara yang membutuhkannya. Artinya, kita melakukan penjualan langsung sehingga bangsa ini menjadi pemain pasar dunia dari hasil laut yang kita miliki.
Hal lain yang juga sangat penting untuk menopang seluruh proses produksi kelautan kita, mulai dari awal sampai akhir, adalah bagaimana penyediaan alat sebagai prasarananya. Misalnya, bila untuk hasil ikan maka bagaimana soal kapal untuk tangkapnya, pabrik untuk pengolahannya, hingga mesin pengemasnya. Kecuali hasil ikan, demikian tentunya dalam memproduksi dan memasarkan berbagai hasil laut lainnya.
Untuk itu semua maka kecuali harus memiliki kemampuan di bidang teknologi yang memadai, pertanyaan lainnya adalah apakah kita juga telah memunyai jumlah pengusaha yang memadai? Baik untuk mengembangkan berbagai industri bidang kelautan, maupun dalam kegiatan perdagangannya.
Jika kita tidak memanfaatkan secara maksimal seluruh hasil laut kita, maka laut kita hanya akan menjadi “kolam susu” seperti kata lagu grup musik Koes Plus. Atau seperti kata mantan Dirut Pertamina almarhum Ibnu Sutowo, “Celakalah orang kaya, tetapi bodoh”, yang akhirya semua kekayaan itu dimanfaatkan orang lain, dan kita hanya mendapatkan sisa-sisanya saja.

Selain memiliki kekayaan laut yang begitu beraneka ragam, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat kita, luasnya wilayah perairan kita sebagai negara kepulauan (archipelagic state) sekaligus membawa tantangan yang tidak kecil untuk mengamankannya.
Garis pantai kita sepanjang 95,181 kilometer menempatkan Indonesia sebagai negara keempat di dunia yang memiliki garis pantai terpanjang, setelah Kanada, Amerika Serikat dan Rusia. Luasnya garis pantai tersebut harus kita kawal demi menjaga kedaulatan Bangsa kita.
Tanggungjawab itu menjadi lebih besar karena posisi Indonesia yang strategis di antara Lautan Hindia dan Lautan Pasifik, menjadikan negeri ini sebagai jalur laut pelayaran internasional. Baik oleh kapal-kapal dagang, maupun oleh kapal-kapal perang asing.
Ada tiga ruas alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) di wilyah perairan Indonesia, yang kini menjadi jalur perairan internasional ke arah Utara dan ke arah Selatan, yakni lewat Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Wetar. Kecuali harus menjaga keamanannya, Indonesia juga sekaligus harus bisa memanfaatkan lalu-lalangnya kapal-kapal tersebut demi pembangunan Bangsa. *

Ansel da Lopez,

Aliansi Kebangsaan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments