Dari “Kebangkitan Jawa” ke Kebangkitan Nasional

Oleh: Manuel Kaisiepo*

Pernah muncul debat, apakah tepat dari perspektif historiografi menandai kelahiran Boedi Oetomo (BO) 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)?

Ketika BO lahir, tokoh politik etis Belanda, van Deventer menulis ” het wonder is geschied, Insulinde, de schoone slaapeter, is ontwaakt” (suatu keajaiban telah terjadi, Insulinde, putri cantik yang tidur itu sudah bangkit). Apakah istilah “ontwaakt” itulah yang mengilhami penetapan hari lahir BO sebagai Harkitnas?

Perdebatan ini muncul karena ada penilaian bahwa basis sosial BO hanya terbatas pada suku dan budaya Jawa, bahkan lebih terbatas lagi pada kalangan priyayi. Karena itu BO adalah simbol “kebangkitan Jawa”, bukan “kebangkitan nasional.” Van Niel misalnya menilai sifat dan lingkup aktivitas BO sesungguhnya terbatas, karena pada tahap awal tidak bicara tentang bangsa tapi tentang Jawa. “Dari terbentuknya tahun 1908, sebagian penulis menetapkan BO sebagai tanggal diawalinya pergerakan nasional, sebagian lagi menyebutnya sebagai kebangkitan nasional. Keduanya keliru”, tulis van Niel dalam bukunya, The Emergence of the Modern Indonesian Elite (1960).

Sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer juga menilai sejak didirikan 1908 hingga 1935, BO tetap merupakan organisasi kesukuan (Jawa), sehingga kurang tepat sebagai simbol kebangkitan nasional. Pram menganggap Sarekat Priyayi yang lahir 1906 lebih nasionalis dibanding BO. Beberapa sejarawan menilai kegagalan BO memegang peran kepemimpinan gerakan nasionalis  awal abad 19 disebabkan oleh corak organisasinya yang selain ariktokratis dan elitis, juga karena sikap moderatnya terhadap pemerintah kolonial.

Tetapi seperti dinyatakan sejarawan Dr. Abdurrachman Surjomihardjo, suatu rekonstruksi sejarah yang dibatasi oleh pengertian semacam itu tidaklah cukup untuk menilai peran BO.

Sekarang lebih satu abad kemudian, sudah bisa diterima bahwa penetapan kelahiran BO 20 Mei sebagai Harkitnas lebih merupakan usaha memberi makna simbolik-politis, bukan semata-mata sebagai hasil rekonstruksi sejarah secara ilmiah. Sekalipun demikian, penelusuran atas peran para tokoh utama  BO membuktikan organisasi ini sesungguhnya juga adalah bagian penting dalam proses kelahiran nasionalisme Indonesia modern awal abad 19.

Pemahaman tentang peran BO sebagai bagian dari kebangkitan nasional akan lebih lengkap bila ditelusuri peran dua tokoh utamanya, dokter Wahidin Sudirohusudo dan terutama dokter Soetomo. Bila Wahidin adalah representasi tokoh tua yang cita-citanya masih sebatas “kebangkitan Jawa”, Soetomo representasi angkatan baru yang menyadari kebangkitan Jawa sebagai tahap awal  menuju kebangkitan nasional Indonesia. Soetomo tokoh penting dalam proses kebangkitan nasional, sejak ia bergabung dalam organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda, Perhimpoenan Indonesia (PI). Soetomo aktif di PI 1919-1924, kemudian aktif dalam politik pergerakan sejak 1924 hingga wafat tahun 1938.

PI (Indische Vereeniging), menurut Ingleson, adalah organisasi pertama yang merumuskan secara jelas konsepsi nasionalisme modern, yang kemudian jadi acuan bagi berbagai gerakan nasionalis sejak tahun 1929 ( Perhimpunan Indonesia and the Indonesian Nationalist Movement, 1923-1928). Sedangkan Kahin menilai PI organisasi terpenting yang menentukan karakter pergerakan kebangsaan sesudah 1926.  Pemikiran PI menjadi acuan utama gerakan kebangsaan, dan mayoritas pemimpin pergerakan setelah 1927 adalah para aktivis PI (Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia).

Soetomo dan aktivis PI yang kembali ke Indonesia tahun 1923 menyadari perlu membangun suatu kekuatan nasionalis modern, yang tidak terbatas pada partai berbasis agama dan ideologi tertentu (belajar dari kegagalan Sarekat Islam dan pemberontakan PKI 1926). Maka awalnya mereka memprakarsai berdirinya beberapa kelompok studi sebagai penerus konsepsi PI. Soetomo mendirikan Kelompok Studi Indonesia (KSI) tahun 1924 di Surabaya. Dia berharap KSI dapat menyatukan kaum terpelajar Jawa dan mengembangkan kesadaran negara-bangsa Indonesia.

Setelah KSI, menyusul Kelompok Studi Umum (KSU) yang didirikan Soekarno tahun 1925 di Bandung  sebagai langkah ke arah pembentukan Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927. Sejak itulah  Soekarno menjadi tokoh sentral dalam gerakan kebangsaan. Ketika Soekarno dan beberapa pemimpin ditangkap sehingga terjadi kevakuman kepemimpinan gerakan kebangsaan, Soetomo muncul dan mendirikan Partai Indonesia Raya (Parindra). Banyak anggota BO bergabung ke partai ini.

Seperti diakui Kahin, sekalipun Soetomo dan Parindra tidak begitu spektakuler dibandingkan Soekarno dan PNI, namun telah ikut memberikan kontribusi penting pada saat munculnya embrio nasionalisme Indonesia  modern.

Membahas peran Wahidin, Soetomo dan BO berarti membahas kembali proses kelahiran dan perkembangan nasionalisme Indonesia. Dari embrio yang bersifat kultural kedaerahan yang ditandai kelahiran BO, proses itu berkembang ke arah gerakan kebangsaan yang nyata dalam wujud PI, PNI, Parindra, dan partai lainnya.

Dari perspektif ini, “kebangkitan Jawa” dan “kebangkitan Nasional” tidak harus dilihat secara dikotomis, melainkan sebagai kontinum. Dengan perspektif ini pula kita memberikan penghargaan yang layak  dalam penulisan sejarah kepada Wahidin dan Soetomo, seperti juga penghargaan serupa kepada para bapak-bangsa lainnya.

Selamat Harkitnas 20 Mei 2020!

*Pengurus Aliansi Kebangsaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here