Indonesia dan Ketidakpastian Perekonomian Global

Oleh: Misbahul Munir

 

 

Pada tahun 1930-an, masyarakat ekonomi dunia tengah diterpa krisis besar-besaran. Masa ini disebut juga sebagai masa Great Depression. Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang paling parah terkena dampak dari krisis besar ini. John Maynard Keynes seorang ekonom asal Inggris menawarkan resep untuk menyembuhkan ekonomi dunia yang tengah sakit. Dalam bukunya yang berjudul “General Thoery of Employment, Interest and Money” memberikan beberapa jawaban untuk penyembuhan.

Teori yang dikemukakan oleh Keynes ini kemudian direspon oleh para ekonom lainnya seperti Irving Fisher dan Alfred Marshall yang menghidupkan kembali teori neo-klasik yang dikembangkan dalam kerangka Keynes, dan kemudian terkenal dengan sebutan madzhab Keynesian. Teori ini terus disempurnakan lagi oleh beberapa ekonom seperti Hicks, Samuelson, Solow, Tobin dan Modigliani yang kemudian dikenal sebagai madzhab Neo-Keynesian Makro Ekonomi.

Namun dalam selang waktu yang tidak lama, penyempurnaan dari teori Keynes tersebut mendapat kritikan keras dari beberapa Ekonom asal Chicago School of Economics yang kemudian dikenal dengan sebutan madzhab Chicago.

Bermula dari madzhab klasik yang meyakini bahwa konsep kesempurnaan pasar itu dikendalikan oleh “tangan-tangan tuhan (invisible hand)”. Ini merupakan ungkapan yang sangat terkenal yang diungkapkan oleh Adam Smith dalam bukunya berjudul “The Wealth of Nations”. Setelah terjadi krisis besar pada 1930-an itu madzhab klasik mulai ditinggalkan dan beralih pada Keynesian.

Sedangkan dalam madzhab Keynesian, masalah perekonomian harus diatur oleh pemerintah atau harus ada intervensi dari pemerintah. Dalam konsep makro ekonomi Keynes, menjelaskan bahwa keseimbangan dalam perekonomian dapat tercapai apabila penawaran agregat seimbang dengan pendapat nasional. Konsep ini pada akhirnya dikenal dengan sebutan madzhab Keynesian dalam ilmu makro ekonomi.

Teori Keynes ini akhirnya tumbang pada era 1970-an setelah mendapat kritikan keras dari madzhab Chicago. Sebagaimana diungkapkan oleh Milton Friedman, yang menjelaskan bahwa tidak tepat jika kestabilan ekonomi itu hanya terletak pada keseimbangan pendapatan saja. Madzhab Chicago menawarkan dalam keseimbangan ekonomi perlu adanya pengaturan jumlah uang beredar (money supplay ) dalam perekonomian. Dengan demikian, madzhab Chicago ini dikenal juga sebagai madzhab monetarian. Hingga hari ini, para ekonom masih tetap berbeda pendapat. Dalam menjaga kestabilan ekonomi, apakah tetap menggunakan konsep makro ekonomi Keynes, atau menggunakan madzhab Chicago.

 

Konteks Indonesia

Dalam sejarah perekonomian global, krisis selalu terjadi diakibatkan oleh kesalahan dari sistem ekonomi yang digunakan. Maka, sebagaimana yang telah dibahas di atas, berbagai madzhab dalam ekonomi selalu berdebat dan saling membantah dalam menyelesaikan masalah ekonomi.

Perekonomian Indonesia saat ini memang sudah terkontaminasi dengan kondisi ekonomi global. Sehingga sangat rentan jika ada gejolak dalam ekonomi global. Saat ini, setidaknya ada dua faktor global yang sangat sensitif bagi perekonomian Indonesia. Pertama, naik turunnya suku bunga acuan Amerika Serikat (the Fed). Karena dalam transaksi internasional, dolar Amerika Serikat masih sebagai mata uang dominan yang digunakan. Kedua, jika terjadi pelambatan perekonomian Tiongkok. Karena Tiongkok saat ini merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, maka jika terjadi gejolak terhadap perekonomian Tiongkok akan berimbas pada perekonomian Indonesia.

Padahal, Indonesia adalah negara yang mempunyai ideologi atau dasar falsafah, yaitu ideologi Pancasila. Hal ini mestinya mampu diterapkan dalam segala lini kehidupan kebangsaan, termasuk dalam kehidupan ekonomi.

Maka, sudah saatnya yang paling mendominasi perekonomian Indonesia adalah sistem ekonomi Pancasila. Yang lebih menekankan pada penumbuhan ekonomi secara bersama-sama. Faktor-faktor ekonomi dimiliki oleh rakyat, dijalankan oleh rakyat dan pada akhirnya akan berujung pada kepentingan rakyat. Sistem inilah yang saya rasa sangat cocok dengan Indonesia. Sehingga, ketergantungan akan perekonomian global akan berkurang dan berakibatkan pada kestabilan perekonomian Indonesia yang lebih terjaga.

 

Mahasiswa Magister Ekonomi dan Keuangan FE UII, Sekjen Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan, Volunteer Generasi Cerdas Keuangan (GCK) 2018.

(Publis di Harian Republika, 12 Maret 2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here