“Menjadi” RA Kartini Jaman Now

Oleh: ISWADI        

(Peneliti Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan)

 

Setiap zaman pasti akan ada saja seorang individu-individu yang mampu memberikan kontribusi yang inspiratif untuk semua kalangan di dalam ruang lingkup sosial masyarakat yang lebih luas, sehingga tidak jarang jika ide pemikiran dari seorang tokoh yang memiliki banyak pendukung tersebut akan selalu menjadi pusat perhatian dan selanjutnya berpotensi untuk dicontoh atau diikuti oleh banyak pihak. Bahkan tidak sedikit banyak orang yang mengimitasi penampilan sang idola tersebut, mulai dari gaya berbicara, gaya pada saat sedang berjalan, bahkan gaya dalam berpakaianpun tidak luput dari perhatian. Pada masa perjuangan para pahlawan kita terdahulu berusaha untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahpun demikian, pasti ada tokoh yang mampu menginspirasi serta menggerakkan hati, pikiran, bahkan semangat untuk bersama-sama bersinergi dalam mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Ada begitu banyak tokoh atau pahlawan di negeri ini yang mampu membuat perubahan besar bagi peradaban bangsa Indonesia, semua berjuang bersama-sama sesuai dengan kadar kemampuannya masing-masing. Termasuk salah satunya pahlawan nasional RA Kartini, sosok yang dikenal sebagai pelopor kabangkitan perempuan ini memiliki banyak jasa dalam usahanya membenahi kondisi sosial masyarakat pada masa itu yang penuh dengan ketidakadilan karena penjajahan yang masih dapat dirasakan dimana-mana. Hadirnya RA Kartini dapat membawa angin segar bagi para pemuda, khususnya perempuan yang ingin menggapai cita-citanya melalui bidang pendidikan, sehingga nantinya melalui pendidikan para pemuda dapat ikut serta dalam proses pembangunan, pengembangan, dan meningkatkan etos kerja dan karakter anak bangsa yang diharapkan dapat membuat berubahan yang berarti bagi wilayahnya masing-masing.

Hadirnya sosok pahwalan seperti RA Kartini pada kala itu terbukti dapat membawa perubahan yang cukup besar bagi masyarakat luas, khususnya bagi para perempuan yang berjuang agar mendapatkan akses dalam memperoleh pendidikan. Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang, dan sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Sepanjang hidupnya, RA Kartini mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa, kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita dinegerinya. Kepada teman-temannya dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria misalnya dalam hal memperoleh akses pendidikan.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia, karena isi tulisan tersebut telah menjadi salah satu sumber motivasi perjuangan kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya bagi kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang dilakukannya seandainya Allah swt memberikan usia yang panjang kepadanya. RA Kartini meninggal dunia di usia muda, yaitu di usia 25 tahun yakni pada tanggal 17 September 1904. Mengingat besarnya jasa RA Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno pada saat itu mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia yang menetapkan RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, sekaligus menetapkan hari lahir Kartini tanggal 21 April untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal dengan Hari Kartini.

Pada hari ini kita menjumpai suatu fenomena yang serba kekinian (Kontemporer), dimana sangat mudah dijumpai tokoh wanita yang mampu memberikan inspirasi bagi para wanita yang lainnya untuk berkarya. Kita berharap sama halnya seperti RA Kartini yang mampu menggerakkan semangat para wanita lainnya untuk terus berkarya dan berjuang mendapatkan haknya. Wanita pada era sekarang dapat menjadi sumber inspirasi bagi para follower-nya, baik dari segi pemikiran, karakter, penampilan, dan bahkan karya yang dihasilkan merupakan hal yang positif dan dapat membawa progres yang signifikan bagi followers-nya itu. Ketika hal-hal yang positif tersebut telah terinternalisasi oleh para individu-individu mengidola seorang tokoh yang mampu memberikan perubahan kearah yang positif, maka akan bertambah lagi followers untuk berusaha “menjadi” seorang tokoh penginspirasi banyak orang. Bayangkan jika kita meniru sosok pahlawan nasional seperti RA Kartini yang selalu gigih dalam berusaha dan berjuang. Menjadi RA Kartini bukan berarti kita harus meniru seluruh apa yang pernah ia lakukan, namun setidaknya melakukan sesuai dengan kadar kemampuan kita masing-masing, dan tidak perlu memporsir diri untuk tampil sebaik mungkin karena masing-masing kita memiliki kapabilitas yang berbeda-beda. Cukup selalu berusaha untuk mengimplementasikan hal-hal yang positif dalam kehidupan dan mampu menginspirasi minimal bagi diri sendiri.

 

Terbit di Harian Tribun Sumsel edisi 18 April 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here