MENUMBUHKAN KESADARAN BERBANGSA

Oleh: MOH SUGIHARIYADI S.Pd.I, M.M.

Direktur Akademi Komunitas Semen Indonesia (AKSI) Rembang dan anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan.  

 

Gejala penyimpangan hidup berbangsa dan bernegara tidak jarang dengan mudah kita jumpai di setiap sudut kehidupan. Sebagai contoh, adanya pihak asing melakukan upaya penjajahan model baru melalui jalur ekonomi, pembiasaan penerapan budaya aneh dan relatif berseberangan dengan mentalitas masyarakat kita oleh pihak asing, dan ajakan ikut-ikutan faham aneh semacam komunisme, sosialisme, sampai dengan liberalisme mengatasnamakan demokrasi kepada masyarakat oleh pihak asing melalui spionase-spionase mereka di dalam negeri.

Pengaruhnya, sekarang ini sulit menemukan kepakeman keseriusan penerapan visi negara Indonesia, jika tidak mau dikatakan gagal. Mengingat sektor ekonomi kapitalistik bermodal asing masuk pada setiap lini kehidupan bangsa Indonesia. Kenyataan sudah sangat jelas, yakni adanya praktek penerapan ekonomi monopoli oleh pihak asing berlaku di negeri ini. Padahal jelas-jelas bertentangan dengan Pasal 33 ayat 1, 2, 3, dan 4.

Seperti kita pedomani, pasal 33 UUD 1945 merupakan sekian isi undang-undang yang mengatur tentang pengertian perekonomian, pemanfaatan sumber daya alam, dan prinsip perekonomian nasional. Berikut uraian isi dapat kita lihat bersama. Pada ayat 1 : Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Ayat 2 : Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Ayat 3 : Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dan ayat 4 : Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

Arahan isi pasal 33 UUD 1945 merupakan aturan dasar pemerintah dan rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mengingat isi pesan menyangkut hajat hidup orang banyak. Hal ini dipertegas pada istilah demokrasi ekonomi yang artinya produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua dibawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran seseorang saja apalagi pihak asing.

Selanjutnya pula dikatakan bahwa “bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat, karenanya harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Jadi bisa dikatakan perintah pasal 33 secara tegas kewenangan pengaturan, penyelenggaraan, penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan sumber daya alam serta pengaturan hukumnya berada pada negara, semisal pengelolaan tambang oleh PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk di Kabupaten Rembang. Atau bisa seperti tawaran Indrawati, 1995 perekonomian Indonesia perlu ditopang 3 pelaku utama, yaitu koperasi, BUMN/BUMD, dan swasta yang akan mewujudkan demokrasi ekonomi bercirikan pasar, dan tetap memberlakukan intervensi pemerintah, serta pengakuan terhadap hak milik perseorangan.

Terkhusus keberadaan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk bisa dibilang merupakan satu-satunya perusahaan plat merah hingga sekarang menguasai pasar semen dalam negeri. Sedangkan industri lainnya sudah tidak lagi murni kepemilikannya perusahaan nasional. Oleh karenanya pilihan tidak salah, apabila bangsa besar ini tetap bersikukuh menjaga keberadaan industri semen agar masih dalam genggaman industri nasional atau BUMN. Hanya dengan cara seperti inilah, peran pemerintah tetap bisa menjaga ketersediaan pasokan untuk memenuhi kebutuhan nasional, sekaligus dapat berperan menjaga kestabilan harga di pasaran.

Pendapat berbeda Djuni Thamrin lebih tragis lagi, saat ini pangsa pasar semen dalam negeri masih dikuasai pihak swasta. Jika demikian kenyataannya, bakal sulit pemerintah memiliki kemampuan intervensi atas harga jual semen di seluruh dunia. Peta pangsa pasar hanya 36 persen BUMN, selebihnya 54 persen dikuasan  swasta, solusinya kalau Semen Rembang sudah beroperasi potensi perubahan peta pangsa pasar bakal menjadi 50 : 50. Lebih lanjut Thamrin mengungkapkan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk Pabrik Rembang tidak bisa beroperasi lantaran masih ada gangguan lain, sehingga suplai semen untuk kebutuhan nasional menjadi terganggu. Pengaruh luasnya rencana terwujudnya satu harga semen akan sulit untuk dicapai. Melihat kondisi demikian, lagi-lagi penikmat kesusahan langsung adalah masyarakat dari kalangan tidak mampu.

Peliknya persoalan berbangsa dan bernegara ini, tentu tidak boleh kita sikapi cukup dengan berpangku tangan. Lalu kalau kita bermaksud terlibat dalam penyelesaian, tentu harus memiliki kemampuan menemukan faktor-faktor penyebab persoalan. Berikut faktor penyebab, terjadinya kegagalan penerapan visi kenegaraan kita. Pertama, Paska perang dunia kedua, model penjajahan secara fisik memang sudah tidak mungkin diberlakukan negara penjajah. Namun apakah upaya-upaya lain untuk berharap tetap berkesempatan memiliki NKRI betul-betul serius sudah tidak terjadi dalam benak dan pikiran mereka. Atau, apakah jaminan negara penjajah sudah betul-betul serius legowo menyerahkan pengelolaan bangsa ini kepada pribumi?

Kedua, Terdapat trend siklus kehidupan munculnya budaya aneh, kebiasaan bukan semestinya yang sebagian besar sudah masuk pada relung-relung terdalam mentalitas masyarakat kita. Dengan gampang sering kita jumpai disetiap daerah mulai kota hingga pedesaan, utamanya di pinggiran-pinggiran daerah berbatasan. Menemukan gejala kurang relevan dengan kebiasaan adat dan budaya kita, para sepuh menyebut ini pertanda bangsa asing melakukan penjajahan lewat budaya.

Ketiga, Ajakan tawaran untuk masuk faham aneh semacam komunisme, sosialisme sampai dengan liberalisme mengatasnamakan demokrasi sering kita jumpai. Hingga berujung terjadinya sikap hidup rakyat tidak percaya terhadap pemerintah, rakyat membangkang petunjuk pemerintah, undang-undang pro pembangunan pada dipereteli (dicabut) dengan slogan demokrasi, sehingga berpengaruh kewibawaan negara menjadi terkikis.

Setelah dilakukan kajian secara mendalam, kejadian ini bisa di kategori sebagai gerakan membahayakan dengan gaya baru terhadap NKRI oleh asing melalui saudara-saudara kita sendiri. Penerapan cara-cara halus bangsa penjajah, melakukan tindakan penjajahan model baru dengan pendekatan pengubahan atau perusakan terhadap cara berpikir bangsa Indonesia sudah sangat terasa. Sehingga bangsa ini menjadi rapuh secara ideologis. Pengaruhnya visi besar negara kita yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan melaksanakan ketertiban dunia dengan berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sekedar menjadi secarik kertas tanpa berarti alias pepesan kosong.

Perasaan trenyuh dan prihatin atas kondisi tidak semestinya inilah, alasan kita perlunya melakukan gerakan antisipasi intervensi asing dengan gaya baru bersama TNI dengan cara menayangkan film G30S/PKI. Kenapa caranya harus dengan cara menayangkan film G.30.SPKI, karena gejala-gejalanya ada kemiripan dengan PKI serta jelas-jelas merugikan bangsa Indonesia khususnya masyarakat yang belum memiliki pegangan kokoh secara ideologis kenegaraan kita yaitu Pancasila.

Selama acara berlangsung dalam forum menemukan perilaku menyimpang yang ada keidentikan sifat-sifat potensial membahayakan negara berdasar ciri-ciri sebagai berikut. 1. Komunitas seperti mereka memiliki kebiasaan bila berkata suka bohong. 2. Memiliki kebiasaan selalu melakukan dan menanamkan perilaku mosi tidak percaya terhadap program pemerintah. 3. Memiliki kebiasaan anti kemapanan atau kebiasaan hidup bukan sewajarnya. 4. Membanggakan pembiasaan protes dengan cara-cara secara kasar, menghasut, dan fitnah. Beginilah cara-cara intervensi asing terhadap keadaan sumber daya kita, agar terjadi kehampaan arah berbangsa dan bernegara. Dengan demikian hanya melalui strategi menumbuhkan kesadaran berbangsa secara benar kekhawatiran berkembangnya penjajahan model baru dapat teratasi.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here