Merekatkan Keterbelahan

Oleh: Muhammad Husein Heikal

Analis EconAct Indonesia; Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan

 

Ada satu hal yang amat sensitif dan berbahaya, yang––entah sengaja atau tidak––telah diwariskan pemerintahan saat ini kepada rakyat, yaitu keterbelahan. Sebagian dari kita, rakyat Indonesia, sebenarnya menyadari bahwa saat ini kita telah terbelah. Saya tak menyasar siapapun sebagai biang kerok atas terjadinya keterbelahan ini. Jelasnya pada masa pemerintahan ini Indonesia telah terbelah, terbentuk menjadi dua kubu. Setiap kubu memiliki keinginan, kepentingan, intrik, sekaligus kebencian yang semakin hari semakin meruncing.

Dalam situasi seperti inilah kita hidup selama tiga-empat tahun terakhir. Ditengah keterbelahan itu, tertatih-tatih pula 25,95 juta rakyat miskin yang menjerit-jerit dalam ringkih kocek kumalnya. Mereka hanya boleh menghabiskan Rp 13.000 untuk biaya makan dalam satu hari. Sementara kita dengan mudahnya membayar biaya parkir mobil sejumlah itu. Inikah Indonesia yang kini kita banggakan itu?

Ketika beberapa waktu lalu, ajang olahraga terbesar di Asia dilangsungkan, ratusan orang mati menjadi korban bencana alam di Lombok. Di ibukota negara kita berpesta, bereuforia, memancar-sorakkan kembang api, aneka rupa-warna. Sementara di sana, di Indonesia bagian tengah, mereka yang tak lain saudara kita satu negeri berpesta air mata. Lalu dengan pongahnya kita menanyakan acara televisi perihal pelelangan dan sumbangan ratusan juta kepada para korban bencana. Betapa mengerikan kesombongan kita saat ini.

Di bulan ini, Palu, Sigi dan Donggala dilanda gempa bumi dan tsunami yang mengguncang, kita justru sibuk menghelat pertemuan ekonomi IMF-WBG dengan anggaran yang begitu besar. Disamping itu seruan beberapa pihak agar menghentikan sementara kampanye, sebagai simbol berduka untuk daerah yang dilanda bencana, juga tak dihiraukan.

Saat ini setiap ada peristiwa yang terjadi di dalam negeri selalu menciptakan dua persepsi. Kedua persepsi inilah yang melahirkan kubu-kubu yang memiliki tagar masing-masing dan mengoceh dengan bebasnya diberbagai ruang yang ada. Kedua kubu bahkan membuat sebutan atau istilah yang tidak patut untuk saling merendahkan satu sama lain. Sedemikian getirkah peradaban bangsa kita kini?

Pada tahun 1904, Karl May, pandai fiksi yang hebat itu, menuliskan tentang betapa berbahayanya prasangka, yang merupakan pemicu aktif atas “wabah yang mengerikan”. Bertahun-tahun kemudian, itulah saat ini, yang terjadi. Keterbelahan di antara kita tak lain tercipta oleh prasangka yang bergulung-gulung menjadi kebencian. Setiap peristiwa menjadi arena yang menghadirkan pro dan kontra. Setiap pihak mempertahankan persepsinya lewat argumen-argumen yang semakin lama semakin menghambur dari logika.

Kondisi ini diperparah dengan pemuncakan emosi yang meluap dan berlanjut menjadi amarah yang berapi-api. Kita berubah menjadi orang-orang keji. Orang-orang yang demi mempertahankan persepsi––yang belum tentu sepenuhnya benar––menjadi sukarelawan atas dogma kebencian sesama manusia. Alhasil, saat ini kita hidup ibarat dalam suatu arena papan catur yang berisi bidak-bidak pembenci yang begitu ringannya berbuat keji, bahkan bila perlu rela menghabisi lawannya itu.

Lantas dibelakang kita, berdiri tegak penguasa bersama para pembantunya yang bergerak perlahan, seolah penuh kehati-hatian, padahal kalut oleh rasa takut dan tidak mampu merekatkan keterbelahan yang berlangsung. Mereka hanya berada dibelakang, diam, menyaksikan bidak-bidak saling berujar, saling membenci, saling memaki, saling mengutuk dan unjuk bukti. Semakin hari kelangsungan ini kian mengkhawatirkan berujung konflik.

Menguatnya superioritas atas identitas merupakan hal yang tidak dapat dibendung dan tak lagi terelakkan. Setiap individu dari masing-masing pihak memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa untuk mengungkap argumen yang menurutnya paling benar. Media sosial menjadi ruang paling verbal untuk melangsungkan itu semua. Media sosial bak arena yang begitu luas bagi siapa saja yang ingin menyuarakan apa saja. Terkadang, saya curiga, media sosial memang sengaja diciptakan untuk memecah-belah kita di dalam tubuh suatu bangsa.

Media sosial memang membuka ruang dialog. Namun sekaligus pula membuka ruang perkelahian. Sebab sesuai prinsip demokrasi yang bangsa kita anut, setiap orang berhak dan bebas berkata, fakta maupun opini. Hal ini termasuk pula dalam ruang media sosial. Namun sayangnya, tidak semua orang memiliki kemampuan beretika dan kadar intelektualitas yang baik. Orang-orang yang termasuk golongan ini tak mau kalah serta menyuarakan argumen. Mirisnya argumen-argumen dari golongan ini tak jarang menyesatkan. Mereka tergolong orang-orang awam yang kurang mengerti situasi dan kondisi atas peristiwa yang tengah terjadi. Namun, dengan kenekatan atau justru kebodohan mengantarkan mereka untuk menuliskan komentar provokatif ataupun berita hoaks.

Pada sisi lain, kaum intelektual dan terpelajar juga turut bermedia sosial. Namun golongan ini nampaknya tak hendak terlalu mengusik berbagai argumen-argumen miring. Padahal semestinya golongan ini berperan meluruskan atau setidaknya memberikan penjelasan kepada golongan yang disebut diatas. Tak perlu berpanjang-panjang, namun cukup melalui komentar sederhana dan mudah dicerna. Nampaknya ini belum terjadi. Kebanyakan dari kaum intelektual tersebut hanya sekadar mengamati apa yang berlangsung dan tengah menjadi trend di media sosial hari ini.

Walau ada beberapa kaum intelektual yang menuliskan pendapatnya soal ini di media cetak. Mereka mengganggap peristiwa ini sebagai suatu fenomena. Namun apakah golongan yang pertama disebut mengetahui hal ini, apakah mereka membaca media cetak setiap harinya? Saya kira tidak. Orang-orang nir-etika dan nir-intelektualitas itu terus bercokol dan terus melakukan “tawuran” di media sosial, tanpa pernah membeli, konon pula membaca media cetak. Sebab bagi mereka, media cetak ialah setumpuk kertas yang hanya berguna membungkus ikan kering saja.

Parahnya lagi jika sebagian dari kaum intelektual meragukan kepercayaan terhadap media massa. Hal ini dapat terjadi sebab independensi media massa mulai goyah, terutama media televisi tak lagi terlihat lurus, penuh maksud dan kepentingan. Begitu banyak susupan beraroma ajakan dan dukungan terhadap satu pihak tertentu.

Ditengah-tengah situasi seperti inilah, kita, 263 juta rakyat Indonesia hidup. Dua kubu yang tercipta atas dasar perbedaan pandangan––disamping perbedaan lain tentunya––menjadi keseharian. Kasih telah terlepas. Kebencian terus menjejalkan sulur-sulurnya kepada setiap dari kita. Dan nampaknya kita masih belum mau untuk merekat kembali, merekat dalam suatu kebinekaan, suatu perbedaan yang dapat kita terima. Setiap dari kita masih terus menjadi bidak pembenci yang begitu agresif ingin membantai lawan-lawan yang berbeda persepsi. Revolusi mental yang digaung-gaungkan pemerintahan saat ini nyatanya gagal.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here