Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Oleh: Mahathir Muhammad Iqbal

(Anggota Kaukus Penulis Muda Aliansi Kebangsaan)

 

“Persatuan dan kesatuan bukanlah tujuan, tetapi syarat untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur”. (Pontjo Sutowo, Ketua Aliansi Kebangsaan).

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang barangkali sering kita dengar, tetapi kita tak pernah meresapi maknanya. Pertanyaan itu adalah, “apa sih yang bisa dilakukan oleh satu batang lidi?” Berangkat dari pertanyaan ini, kita akan mencoba menggali nilai filosofis dari sebuah “sapu lidi”. Sehingga diharapkan darisana kita akan menemukan sebuah makna kehidupan, bahwa mewujudkan sebuah persatuan dan kesatuan itu adalah sesuatu yang “maha penting”. Apalagi jika hal itu didasarkan pada konteks sebuah bangsa yang memiliki tingkat heterogenitas sentimen primordialisme berbasis suku, agama, etnis, bahasa, budaya yang tinggi, seperti bangsa yang kita cintai ini, bangsa Indonesia. Preferensi (pilihan) politik setiap individu juga bisa segera kita tambahkan, mengingat tahun ini dan tahun depan adalah tahun politik.

Kembali ke pertanyaan diatas. Memang, tidak ada yang bisa dilakukan oleh satu buah batang lidi. Selain dia tak bisa dipakai untuk membersihkan kotoran, dia juga mudah untuk dipatahkan. Tetapi jika dari beberapa batang lidi itu bersatu dan membentuk sebuah formasi sapu, dia akan mempunyai manfaat untuk membersihkan sampah, pun begitu dia menjadi tak mudah untuk dipatahkan.

Jika kita mencoba untuk flashback, sejarah kolektif bangsa Indonesia pada hakikatnya mengajarkan kepada kita bahwa persatuan dan kesatuan itu adalah modal utama untuk mengusir kolonialisme yang membelenggu dan menindas bumi tumpah darah. Diawali dari Portugis yang datang ke Malaka pada tahun 1509, lantas bangsa Spanyol yang di tahun 1527 mengakibatkan perang saudara antara kerajaan Ternate-Tidore, dilanjutkan oleh Belanda pada tahun 1602, dan dipungkasi oleh Jepang pada tahun 1942.

Tersebutlah dalam buku-buku sejarah, bahwa pada sebelum tahun 1905, perjuangan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia seringkali membuahkan hasil sebuah kegagalan. Hal itu dikarenakan belum adanya rasa persatuan dan kesatuan dari setiap entitas bangsa. Sense of belonging belum terbentuk secara utuh. Akibatnya, pihak kolonialisme mudah sekali melancarkan politik devide at impera, alias politik pecah belah.

Singkat cerita, sampailah kita kepada saat dimana tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1928, yakni berikrarnya para pemuda-pemudi untuk bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan, yakni Indonesia. Momentum ini juga disebut-sebut sebagai lahirnya semangat kolektif untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Selain itu, kita bisa mengambil ibrah dari sejarah bangsa-bangsa lain. Karena tak mampu mengelola keberagaman serta mendorong persatuan dan kesatuan, terjadilah disintegrasi bangsa. Kita bisa ambil contoh misalnya: Swedia-Norwegia (1905), Inggris-Irlandia (1922), Ottoman-Turki (1923), Denmark-Eslandia (1944), Korea Utara-Korea Selatan (1950), Jerman barat- Jerman Timur (1945) dimana pada tahun 1989 memutuskan untuk bersatu kembali, Mali-Senegal (1960), Malaysia-Singapura (1965), Pakistan-Bangladesh (1971), Uni Soviet (1990), Yugoslavia (1991), Etiopia-Eritrea (1993), dan Cekoslawakia (1993). Semua terjadi pada abad ke-20. (Shalahuddin Wahid, Kompas, 7/4/2018).

Tetapi apa yang terjadi sekarang? Kita sepertinya tak menghiraukan pelajaran dari sejarah bangsa kita sendiri dan bangsa-bangsa lain. Fitnah dan caci maki semakin mudah kita temukan di media sosial melalui mekanisme informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya (hoax), menguatnya politik identitas dimana sentimen primordialisme berbasis suku, agama, ras, etnis menjadi alat ampuh untuk mengahancurkan karakter lawan politik (character assasination). Penghormatan dan penghargaan yang mestimulus lahirnya sikap toleransi terhadap liyan (the others) juga  dirasa semakin pudar.

Yang tak kalah penting, karena kita telah memasuki tahun-tahun politik, perbedaan preferensi politik juga bisa mengakibatkan renggangnya kohesivitas sosial yang telah susah payah kita bangun. Teman jadi lawan. Saudara jadi musuh.

Yudi latif (2016), mencoba untuk mendiagnosa fenomena ini dengan menulis bahwa solidaritas emosional yang kita miliki ini mudah roboh oleh kelemahan fungsional karena tidak terpenuhinya cita-cita kebajikan dan kesejahteraan bersama. Dalam konteks ini, maka pembangunan ekonomi yang berkeadilan dan mensejahterakan menjadi penting untuk diwujudkan.

Maka, Insya Allah, dengan mewujudnya persatuan dan kesatuan yang ditandai dengan bersatunya semua elemen bangsa, ikhtiar untuk menggapai masyarakat yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia akan menemukan jalannya. Peribahasa mengatakan, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Akhir tulisan, izinkan saya membagi kepada anda pidato the founding father, presiden Republik Indonesia yang pertama, seperti yang dikutip oleh Yudi Latif (2011), untuk kita renungkan dan resapi bersama: “Apakah kita hendak mendirikan Indonesia merdeka untuk sesuatu orang, untuk suatu golongan? Mendirikan negara Indonesia merdeka yang namanya saja Indonesia merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan? Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik saudara-saudara yang bernama kaum bangsawan yang di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa punya negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara “semua untuk semua”… karena itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan Kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali, atau lain-lain. Tetapi Kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat. (Soekarno, 1 Juni 1945).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here