Pentingnya Literasi Digital

Oleh Misbahul Munir

Sekjen Kaukus Aliansi Kebangsaan

(Harian Duta, 15 Juli 2019)

 

Pemilihan umum (pemilu) nasional 2019 telah usai. Saatnya kembali kita hidup damai dan fokus untuk membangun bangsa menjadi lebih baik ke depannya. Ada banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari proses pemilu nasional beberapa bulan lalu. Salah satunya adalah, tentang pentingnya dalam literasi digital. Dalam proses pemilu lalu, ada banyak pengguna media sosial ditangkap oleh pihak yang berwajib lantaran terbukti menyebarkan konten-konten berupa ujaran kebencian, fitnah dan hoax.

Perkembangan dunia digital belakangan ini memang patut kita syukuri. Sebab, dengan majunya dunia digital mempermudah kita dalam mendapatkan informasi. Bukan hanya memudahkan, tetapi kita juga bisa mendapatkan informasi lebih cepat, efektif dan efisien. Hal ini jauh berbeda dengan generasi dahulu yang mana jika ingin mendapatkan informasi atau berita terbaru harus melalui proses yang panjang.

Namun, kemajuan dunia digital yang menawarkan segala kemudahan tersebut bukan berarti tidak mempunyai risiko. Sebab, kemajuan dunia teknologi yang tidak dibarengi dengan kemajuan manusianya sebagai pengguna juga merupakan bencana. Itulah yang menjadi tantangan pada masa kini. Fenomena ini bukan hanya menjadi tantangan di Indonesia saja, melainkan juga di seluruh dunia internasional.

Salah satu masalah besar yang diakibatkan oleh majunya dunia digital adalah mewabahnya fenomena berita bohong atau lebih dikenal dengan istilah hoax. Sebenarnya fenomena hoax tersebut sudah muncul sejak lama. Menurut Pratiwi Utami (2018) dalam tulisan jurnalnya yang berjudul “hoax in modern politics: the meaning of hoax in Indonesian politics and democracy” (terbit di jurnal ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Gadjah Mada), istilah hoax pertama kali dikenalkan oleh MacDougall dalam bukunya yang berjudul “Hoaxes” (1958). MacDougall mendefinisikan hoax sebagai “deliberately concocted untruth made to masquerade truth”, atau secara sederhana dapat diartikan dengan senagaja menciptakan kebohongan untuk menutupi kebenaran.

Jika kita flashback kembali pada proses pemilu beberapa bulan lalu, fenomena hoax dapat dengan mudah kita dapati berseliweran di dunia maya. Aksi saling serang di dunia digital masif terjadi. Dari kelompok yang satu membuat berita mengenai kejelekan-kejelekan kelompok yang lain. Parahnya lagi, berita yang disebar tidak bisa dipertanggungjawabkan mengenai kebenarannya. Begitu juga dengan kelompok lawannya, juga sama, membuat berita mengenai kejelekan kelompok lain yang disebar luas di dunia maya. Begitu terus saling serang dalam kubangan hitam dunia maya.

Sayangnya, kondisi masyarakat kita masih banyak yang belum begitu mengenal dunia digital dengan baik. Apa yang mereka dapatkan di dunia maya langsung mereka telan mentah-mentah dan mereka sebar melalui akun media sosial masing-masing. Mereka tidak begitu mempedulikan sumber berita yang mereka sebarkan. Dari situlah mulai bermunculan berita-berita hoax hingga berujung pada penangkapan para pelaku yang menyebarkan berita tersebut.

Maka dari itu, inilah pentingnya literasi digital bagi masyarakat kita, terutama para pengguna media sosial. Sebab, masyarakat pengguna media sosial yang bersinggungan secara langsung dengan konten-konten di dunia maya. Maka, risiko mereka terpapar berita hoax lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak bersinggungan langsung dengan dunia digital.

Sebagai salah satu contoh, dalam pengalaman pribadi saya, banyak tetangga-tetangga saya di desa yang baru kenal dunia digital belum lama. Mereka mempunyai akun media sosial seperti Facebook, Instagran, Twitter dan juga memasang aplikasi Whatsapp belum lama menjelang pemilu beberapa bulan lalu. Seperti biasa, setelah mempunyai akun media sosial baru, mereka langsung menambahkan permintaan pertemanan untuk menjadi teman di media sosial. Permintaan pertemanan tersebut dilayangkan kepada banyak orang, termasuk ke akun media sosial pribadi saya.

Pada awal pertemanan dengan saya, hal-hal yang di-upload di media sosial masih dalam kategori wajar berupa poto-poto pribadi dan keluarga. Setelah beberapa minggu kemudian, saya dikejutkan dengan perilakunya yang hampir tiap hari men-share berita-berita hoax yang menyerang salah satu calon peserta pemilu tahun 2019. Setelah saya selidiki, ternyata dia berteman dengan orang-orang yang juga sering membagikan berita-berita semacam itu.

Dari situ timbullah semacam keprihatinan. Bisa jadi bahwa sebenarnya mereka tidak sadar kalau yang mereka bagikan itu adalah berita-berita hoax, fitnah dan ujaran kebencian. Mereka hanya menjadi korban oleh para pihak yang tidak bertanggung jawab yang sengaja memproduksi berita-berita hoax berupa fitnah dan ujaran kebencian yang di pesan oleh para elite yang berkepentingan dalam memenangkan pemilu.

Agar kita bisa terjaga dari berbagai bentuk kejahatan dunia digital, maka kita harus meningkatkan literasi digital. Literasi digital sangat penting bagi masyarakat luas, terutama yang setiap hari bersinggungan langsung dengan dunia maya. Dengan meningkatkan literasi digital bagi masyarakat luas, diharapkan mereka akan semakin mampu menggunakan media sosial yang mereka miliki secara lebih bijak. Wallahu a’lam bhissawaf!

 

Sumber gambar: impuls.id/wp-content/uploads/2018/11/BLD-Digital-Literacy-2017.jpg

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here