Rekonstruksi Kebangsaan dalam Turbulensi Globalisasi

Oleh: Muhammad Husein Heikal

(Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan)

 

Indonesia, negeri berdaulat yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Beragam suku, agama, ras dan kultur berbeda tersebar di seluruh bentangan bumi Nusantara. Nilai-nilai luhur kebangsaan yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945 merupakan cermin peradaban, bahwa manusia Indonesia telah mencapai kematangan pola pikir yang bijaksana.

Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki spirit wawasan kebangsaan berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, dan oleh karenanya memiliki landasan moral, etik dan spiritual, serta berkeinginan untuk membangun masa kini dan masa depan bangsa yang sejahtera lahir dan batin, material dan spiritual, didunia dan akhirat (Yudohusodo, 1996:13).

Namun betapa sayang dan sungguh memiriskan pada abad ke-21 ini ada indikasi menurunnya spirit wawasan kebangsaan dan ketaatan terhadap nasionalisme dalam tubuh bangsa besar kita. Nilai-nilai intrinsik dan fundamental bangsa yang selama ini menjadi landasan pembangunan kebangsaan dan kenegaraan––mulai, sedikit demi sedikit––tereduksi maknanya. Tak lain tak bukan karena kita terlalu silau dengan nilai-nilai baru yang datang secara mencengangkan yang belum tentu sesuai dengan karakter dan kultur bangsa Indonesia.

Atas nama globalisasi terjadi pencarian budaya baru yang lebih relevan. Ekstrimnya disini tidak peduli apakah identitas, yang berpangkal pada identitas kebangsaan (religiusitas dan nasionalisme) harus ditanggalkan. Parahnya pula relevansi ini terkesan mudah goyah, berganti, dan terus berganti hingga mencabut akar tradisi yang memang sudah tidak kokoh. Maka, menetaslah budaya baru (new culturalism) yang sama sekali baru dan modern, bukan berkiblat pada Barat maupun Timur, namun bisa jadi lebih parah-menyesatkan.

Globalisasi adalah suatu keniscayaan, sebagai hal yang kini tak lagi dapat terelakkan. Terjangan arusnya telah melanda laksana sebuah kekuatan alami yang teramat sukar dibendung, hingga mengguncang akar-akar sendi kehidupan kita. Embrio konsep globalisasi yang mulai tumbuh tidak lama setelah usainya Perang Dunia II (sekitar 1950-an) telah menimbulkan suatu great acceleration dibidang iptek, ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Sejak dimulainya periode ini para peneliti, pakar, dan pemikir mulai khawatir dengan kehadiran globalisasi. Dan Indonesia dapat dikatakan terlalu terbuka (tanpa ada perlawanan berarti, meskipun secara moral-etika) dihantamkan pada kikisnya kecintaan terhadap bangsa sendiri, dan lebih mengeksplorasi produk-produk globalisasi yang tak banyak membawa nilai positif.

Samuel P. Huntington lewat buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996) menuliskan bahwa dalam keadaan dunia yang semakin terglobalisasi, akan terjadi perusakan serius pada kesadaran diri pada tingkat peradaban, kemasyarakatan dan etnis.

Dapat kita pahami apa yang dimaksud Huntington ialah globalisasi adalah selubung hitam penghancur bangsa lewat praksis-praksisnya. Maka, tak lain tak bukan, secara nasional dan seluruh rakyat Indonesia harus mengerti (atau setidaknya tahu) bahwa problema bangsa besar kita untuk menghalau globalisasi ialah dengan menggugah ghirah kebangsaan, yakni perihal rasa religiusitas plus nasionalisme Indonesia ditengah tatanan perubahan dunia, yang berakselerasi dengan sangat-sangat cepat. Dengan kata lain, intinya disini ialah kita harus melakukan rekonstruksi kebangsaan ditengah arus deras turbulensi dari globalisasi.

Lantas mengapa harus dengan cara menggugah ghirah kebangsaan untuk mengusir globalisasi? Sebab masalah kita berakar pada tereduksi makna kecintaan terhadap bangsa sendiri. Nilai-nilai dan karakter bangsa kita waktu demi waktu kian terkikis. Inilah yang harus segera dibenahi lewat rekonstruksi wawasan kebangsaan, yang berangkat dari nilai-nilai dasar religiusitas dan nasionalisme.

Sebagaimana kata Ernest Gellner dalam Nations and Nationalism (1983) menyatakan bahwa nasionalisme-lah yang telah melahirkan sebuah bangsa. Meningkatnya religiusitas dalam tubuh sebuah bangsa adalah bagian dari nasionalisme itu sendiri. Dari itu bila kita simpulkan, religiusitas dan nasionalisme telah menjadi satu tubuh yang saling berikatan dalam wawasan kebangsaan.

Nasionalisme berkeyakinan bahwa umat manusia terbagi dalam beraneka bangsa. Bahwa semua bangsa memiliki hak untuk memiliki pemerintahan dan menentukan nasibnya sendiri. Negara adalah satu-satunya unit politik yang sah sebagai penjaga identitas bangsa. Dari latar belakang ini perlu adanya untuk mengembalikan peran agama dalam menjawab problematika umat. Nasionalisme berakar dari sistem budaya suatu kelompok masyarakat yang saling tidak mengenal satu sama lain. Kebersamaan mereka dalam gagasan mengenai suatu bangsa dikonstruksikan melalui khayalan yang menjadi materi nasionalisme. Sebagai contoh dalam pandangan Ben Anderson, bahwa nasionalisme terbentuk dari adanya suatu khayalan akan suatu bangsa yang mandiri dan bebas dari cengkraman kekuasaan kolonial.

Pada akhirnya, diera globalisasi telah menyelebungi kehidupan, kita mestilah berpikir realita dan rasional. Melihat kondisi dan fakta lapangan, tidak mungkin globalisasi terhapuskan. Maka, sikap kita terhadap globalisasi haruslah jelas, yaitu protektif dan proaktif. Tidak sekadar antisipatif atau wait and see belaka. Disinilah kita harus berperan aktif ikut membentuk wujud globalisasi bertransformasi menjadi globalisasi dengan perangainya yang ideal, yaitu damai, berkeadilan, makmur dan berperadaban, tanpa menanggalkan identitas kebangsaan lewat rekonstruksi nilai-nilai kebangsaan dalam demi masa depan NKRI yang lebih baik.

Opini                                                                      

(HARIAN ANALISA, 22 Februari 2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here