Sambutan Ketum Aliansi Kebangsaan dalam Diskusi Publik Ketahanan Pangan, Bogor

Oleh: Pontjo Sutowo[1]

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas berkenannya, pada hari ini  kita semua diberi kesehatan, untuk menghadiri diskusi publik di kampus IPB University ini. Diskusi publik hari ini merupakan rangkaian dari Diskusi Serial Kebangsaan yang dilaksanakan bersama-sama oleh Aliansi Kebangsaan, Forum Rektor Indonesia, dan Harian Kompas selama dua tahun, dengan tema utama : “Mengukuhkan Kebangsaan yang Berperadaban: Meraih Cita-Cita Nasional dengan Paradigma Pancasila”.

Diskusi Serial Kebangsaan yang sudah dimulai pada tanggal 20 Maret 2019 yang lalu, membahas berbagai isu pada pembangunan tiga ranah utama kehidupan sosial yang sangat menentukan peningkatan mutu peradaban bangsa, yaitu:  ranah mental-spiritual, ranah institusional-politikal, dan ranah material-teknologikal. Khusus untuk penyelenggaraan diskusi pada ranah material teknologikal, penyelenggaraannya diperluas dengan menggandeng Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).

Dalam diskusi publik hari ini, kita akan memperdalam pembangunan ranah  material tekonologikal dengan tema : “Penguasaan dan Pengembangan Inovasi Teknologi untuk Ketahanan Pangan Nasional”, sebagai kelanjutan dari beberapa diskusi/FGD terdahulu pada topik di seputar isu penguasaan dan pengembangan inovasi teknologi dalam menumbuhkan kemandirian dan kemakmuran ekonomi secara berkelanjutan. Isu ini menjadi perhatian serius,  karena teknologi dewasa ini, telah menjadi faktor diterminan (determinant factor) bagi kemajuan peradaban sebuah bangsa agar mampu bersaing di tingkat global. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) telah menjadi  tulang punggung pembangunan ekonomi, sehingga muncul paradigma baru “Tekno-Ekonomi (Techno-Economy Paradigm)”, dimana teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas hidup suatu bangsa

Penguasaan teknologi juga merupakan elemen penting dari “Total Factor Productivity (TFP)” dalam peningkatan  produktivitas yang akan menentukan daya saing baik pada level individu, perusahaan, industri, maupun negara. Dalam model pertumbuhan ekonomi Solow (Solow growth model) dijelaskan bahwa output yang dihasilkan dengan jumlah input yang sama dapat meningkat hanya jika disertai oleh peningkatan teknologi yang dihitung dalam TFP.   Dengan TFP yang tinggi, yang menggambarkan tingginya inovasi dalam sains dan teknologi, beberapa Negara seperti Korea Selatan, Taiwan,  mampu keluar dari middle income trap, bahkan kemudian muncul menjadi negara yang maju.

Mengingat begitu pentingnya peran teknologi bagi kemajuan sebuah peradaban, maka mendesak bagi Indonesia untuk meningkatkan penguasaan dan pengembangan inovasi teknologi yang saat ini memang masih jauh ketinggalan. Rendahnya penguasaan teknologi Indonesia saat ini dapat kita telusuri dari beberapa indeks yang dipublikasikan oleh lembaga-lembaga internasional. Ukuran yang berkaitan dengan TFP dan knowledge economy index misalnya, menunjukkan betapa rendahnya kontribusi nilai tambah iptek dan tingkat inovasi Indonesia bagi pertumbuhan ekonomi.

Dalam mengejar ketertinggalan teknologi, Indonesia dapat mencontoh keberhasilan negara-negara lain. Berdasarkan pengalaman dari negara-negara lain dan diskusi pada FGD yang kita laksanakan sebelum ini, ada beberapa komponen elementer penggerak sistem inovasi teknologi yang harus diperhatikan Indonesia, antara lain adalah: (1) Sinergi dan kolaborasi yang kuat dalam “Triple Helix”, yaitu pemerintah, perguruan tinggi/lembaga riset, dan industri/dunia usaha. (2) Pengembangan prioritas unggulan, dan (3) Pemberdayaan masyarakat.

Dalam pengembangan inovasi teknologi pada “Prioritas Unggulan”, sudah seharusnya Indonesia memberikan prioritas pada pengembangan kekhasan potensi Indonesia yang bisa memberi nilai tambah terhadap keunggulan komparatif (comparative advantage) yangkita miliki. Dalam FGD yang lalu, sesuai dengan potensi yang dimiliki Indonesia, berkembang pemikiran untuk memberi prioritas pengembangan inovasi teknologi pada sektor: pertanian dan pangan, energi, sumber daya alam, kesehatan, kemaritiman, dan pariwisata. Hari ini, kita akan fokus mendiskusikan pengembangan inovasi teknologi dalam sektor pertanian dan pangan.

Seperti kita ketahui bersama, seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia, demikian juga Indonesia, maka kebutuhan akan pangan pun terus meningkat. Sebagai kebutuhan dasar (basic needs) manusia yang paling utama, pangan merupakan komoditas strategis baik ditinjau dari segi ekonomi, politik dan sosial. Sejarah membuktikan bahwa Isu pangan sangat erat kaitannya dengan ketahanan   sosial,  stabilitas  ekonomi,  stabilitas  politik,  dan  keamanan  atau  ketahanan  nasional suatu negara. Seperti yang pernah terjadi di Mesir, Kamerun, Haiti, dan Burkina Faso, akibat kelangkaan pangan telah memicu terjadinya kerusuhan yang meluas. Karenanya, ketersediaan  pangan menjadi isu strategis global yang bisa menjadi sumber konflik bahkan perang antar negara.   Jangan lupa bahwa sekitar 70 %  konflik yang terjadi di dunia bersumber dari isu energi dan pangan.

Oleh karena itulah maka ketahanan pangan sudah seharusnya menjadi salah satu kepentingan nasional utama Indonesia yang perlu terus diperjuangkan. Terlebih karena program “Sustainable Development Goals (SDGs)” yang merupakan komitmen global sekaligus juga komitmen Indonesia, telah menetapkan salah satu tujuannya yang harus dicapai pada tahun 2030 yaitu:  “Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian berkelanjutan”. 

Undang-Undang Nomor: 18 Tahun 2012 tentang Pangan juga mengamanatkan bahwa penyelenggaraan pangan harus dilakukan berdasarkan Kedaulatan Pangan, Kemandirian Pangan, dan Ketahanan Pangan. Yang dimaksud dengan ketahanan pangan dalam undang-undang ini adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Berdasarkan penilaian Global Food Security Index (Indeks Ketahanan Pangan Global) dari The Economist Intelligence Unit yang dipublikasikan pada Desember 2019, Indonesia berada di posisi 62 dari 113 negara.[2] Jika dicermati lebih dalam pada tiap indikator, Indonesia berada di posisi 48 untuk indikator ketersediaan, posisi 58 untuk indikator keterjangkauan, dan posisi 84 untuk kualitas dan keamanan.  Keadaan ini tentu masih memprihatinkan mengingat Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, sumber pangan yang beragam, serta keadaan geografi dan iklim yang mendukung.

Untuk memperbaiki keadaan ini yaitu  meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional, menurut hemat saya, ada dua hal penting yang harus dilakukan yaitu (1) penguasaan dan pengembangan inovasi teknologi,  serta (2) pemberdayaan masyarakat. Dalam hal pemanfaatan teknologi untuk pertanian dan ketahanan pangan contoh yang paling aktual dapat kita lihat dari pengalaman Ethiopia yang dulu merupakan salah satu negara di Afrika dengan tingkat kemiskinan tertinggi di dunia sehingga sering dilanda kelaparan dan busung lapar. Namun saat ini,  dengan bantuan teknologi Israel, Ethiopia telah menjadi surga pertanian. Bahkan, negara ini pada tahun 2017 telah menduduki peringkat ke-12 sebagai Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan menurut Global Food Security Index (GFSI) hanya satu tingkat di bawah Amerika Serikat dengan urutan ke-11.[3]

Di masa lalu, Indonesia pernah menikmati kenaikan produksi beras yang cukup tinggi. Keberhasilan ini, selain karena penerapan teknologi yang disebut sebagai “Teknologi Revolusi Hijau”, juga disebabkan karena keberhasilan dalam “pemberdayaan masyarakat” khususnya pemberdayaan petani. Pemberdayaan ini perlu  terus  dilanjutkan  karena Undang-Undang   Nomor: 19    Tahun    2013    tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani juga mengamanatkan perlunya perlindungan serta pemberdayan petani agar memiliki   kapasitas   untuk   terus   tumbuh   dan berkembang menjadi lebih sejahtera.

Selain untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian petani, pemberdayaan masyarakat juga penting  untuk mengatasi berbagai hambatan kultural yang sering dihadapi dalam penerapan teknologi pada sektor pertanian dan pangan. Dalam pengembangan inovasi teknologi, pemberdayaan masyarakat juga bermanfaat untuk membuka ruang-ruang pengembangan inovasi teknologi semakin luas dan merata sehingga pembangunan ekonomi berkelanjutan juga akan terwujud di masyarakat. Kebijakan pengembangan inovasi teknologi berbasis pemberdayaan masyarakat juga dilakukan Cina untuk mempercepat penguasaan teknologi yang dicanangkan dalam program “Made-In Cina 2025” sejak Mei 2015, sehingga banyak produk-produk Cina berbasis teknologi justru dihasilkan oleh perorangan atau kelompok usaha mikro “Home Industry”.

Dalam keadaan semakin meningkatnya kebutuhan pangan seiring laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang saat ini sudah mencapai 265,3 juta,  sementara luas lahan pertanian mengalami penurunan dari tahun ke tahun tentu merupakan tantangan besar bagi upaya peningkatan ketahanan pangan nasional kita. Pada tahun 2017 terjadi penurunan lahan pertanian sebesar 7,75 juta hektar menjadi 7,1 juta hektar di tahun 2018.[4] Menghadapi keadaan ini, maka penguasaan dan pengembangan inovasi teknologi yang paling produktif tetapi ramah lingkungan merupakan suatu keniscayaan dan mendesak sifatnya. Tentu tidak boleh melupakan pemberdayaan masyarakat.

Hadirin Peserta Diskusi yang saya hormati,

Mengingat masih banyak persoalan-persoalan mendasar yang kita hadapi dalam sektor pertanian dan pangan, saya berharap diskusi publik ini bisa merangsang pertukaran pikiran dan urun gagasan yang dapat memperkaya perspektif dan pilihan-pilihan untuk dapat disintesiskan sebagai masukan bagi pembangunan Ketahanan Pangan Nasional kita. Mudah-mudahana melalui forum ini kita dapat menyamakan persepsi, sikap, dan  tindakan dalam melakukan berbagai terobosan berbasis Iptek, khususnya dalam sektor pertanian dan pangan demi meningkatnya ketahanan pangan nasional.

Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada Rektor IPB  University yang telah memfasilitasi pelaksanaan diskusi publik ini. Saya juga menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada  para narasumber, moderator, dan segenap undangan yang hadir dalam diskusi ini. Semoga upaya yang kita laksanakan ini bermanfaat bagi bangsa dan Negara Indonesia tercinta.  Amin

Terimakasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.                                                                                                    


[1]      Ketua Aliansi Kebangsaan/Ketua Pembina YSNB/Ketua Umum FKPPI

[2] The Economist Intelligence Unit. Global Food Security Index. (2019)

[3] The Economist Intelligence Unit &  Barilla Center for Food & Nutrition Foundation (BCFN), 2017

[4] Badan Pusat Statistik (2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here