Sembilan Tahun Aliansi Kebangsaan Berkiprah

Test

Oleh: Pontjo Sutowo

TAHUN 2010, banyak teman yang mempertanyakan, bahkan ada yang meragukan. Buat apa saya menggagas mendirikan Aliansi Kebangsaan. Bukankah sudah banyak pihak yang seharusnya bertanggung jawab terhadap masalah-masalah kebangsaan kita? Bukankah sudah banyak diskusi dan seminar-seminar yang membicarakan masalah kebangsaan kita.
Saya tetap bergeming. Bukankah Allah SWT sudah memberikan begitu banyak rezeki dan kenikmatan hidup buat saya dan keluarga? Apalagi menurut pengamatan saya, khususnya setelah reformasi, semangat kebangsaan kita terlihat mulai memudar. Nilai-nilai kebangsaan kita sebagai modal budaya justru sedang mengalami perapuhan. Sebaliknya telah berkembang subur nilai-nilai yang tidak sesuai Pancasila, seperti, individualisme, kapitalisme, dan liberalisme. Semuanya itu harus kita tangani dengan segera, jika kita tidak ingin bangsa ini menjadi punah. Hanya wawasan kebangsaanlah yang bisa menyatukan begitu banyak pulau dan suku di Nusantara ini, masing- masing dengan keragamannya tersendiri. Masing-masing denga agama dan budayanya sendiri-sendiri.


Mengajak beberapa tokoh dari berbagai latarbelakang dan profesi, kami lalu mendirikan Aliansi Kebangsaan. Dibentuk berdasarkan akta notaris Yunita Parmatasari, SH pada tanggal 28 Oktober 2010, yang kemudian disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan keputusan Nomor AHU – 88.AH.01.07 Tahun 2012, tanggal 25 Mei. Para tokoh yang ikut membentuk Aliansi Kebangsaan, antara lain (alm) Brigjen (Purn) Dr. Saafroedin Bahar, Drs. Ahmad Zaky Siradj, Haji Salahuhudin Wahid, Dr. Budi Kusumohamidjojo, Ny. Ir. Zoerani Djamal, Raden Tarno Kamseno Soedjono, Ny. Ir. Retno Sri Endah l, Msc, Haji Drs. Toto Irianto, (alm) Drs. Eddie Lembong, Dr. Yudi Latif, Karun Kamil, SH, FX Mudji Sutrisno, dan saudara Indra Bambang Utoyo.
Dalam benak dan pikiran saya serta teman-teman, kebangsaan merupakan modal sosial yang sangat penting bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia ke depan. Oleh karena itu, nilai-nilai kebangsaan yang ada dalam kehidupan masyarakat bangsa ini harus terus-menerus dirawat, diaktualisasikan dan mewujud ke dalam karakter bangsa Indonesia. Hanya wawasan kebangsaanlah yang mampu menyatukan demikian banyak kepulauan di Indonesia ini, bukan faham lainnya.


Terancam musnah

Saya melihat dan merasakan, eksistensi kebangsaan kita dewasa ini terancam musnah karena kenaifan, kelalaian dan ketidakacuhan kita anak-anak bangsa. Semangat kebangsaan kita secara perlahan-lahan, dan mungkin juga tidak kita sadari, akhir-akhir ini telah mengendor, dan meningkatnya semangat golongan.

Pancasila sebagai dasar Negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yang merupakan formula konstitusional yang mewadahi semangat kebangsaan tersebut, bukan saja hampir tidak dirujuk lagi dalam kehidupan bernegara, bahkan juga tidak lagi disebut-sebut dalam pembicaraan politik. Padahal kita semua tahu bahwa tanpa Pancasila seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, tidak akan terbentuk sebuah negara di kepulauan Nusantara ini. Jika keadaan yang memprihatinkan ini tidak dicegah dan ditangani secara baik maka cepat atau lambat, bangsa yang bermasyarakat majemuk ini dapat pecah berkeping-keping menjadi satuan-satuan politik yang lebih kecil, yang selain amat lemah, juga akan berkonflik satu sama lain, dan tidak mustahil akan dicaplok satu demi satu oleh kekuatan global yang jauh lebih besar dan lebih canggih.

Beberapa contoh telah terjadi. Lihat saja UNI Soviet dan Yogoslavia. Pecahnya suatu bangsa akan membawa dampak yang sangat berbahaya. Bukan saja karena terhentinya secara mendadak segala bentuk pelayanan yang disediakan pemerintah bagi rakyat, tetapi juga akan menyebabkan terjadinya konflik horizontal berskala besar, oleh karena demikian banyak golongan harus merebut penguasaan terhadap sumber daya alam, yang jelas akan tetap terbatas.

Namun, pecahnya suatu bangsa tentu saja dapat dicegah dengan cara merawat kehidupan kehidupan kebangsaan tersebut secara cermat. Saya sering menyatakan bahwa menjadi bangsa itu bukan sesuatu yang given, sesuatu yang diberikan. Tetapi sesuatu yang diperjuangkan dan harus selalu dijaga dan dirawat.

Selama ini terdapat kesan bahwa kita menganut sejenis pandangan linier tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, yang bermula dari kebangkitan nasional tahun 1908, kemudian diikuti oleh Sumpah Pemuda pada tahun 1928, dan berpuncak pada Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 1945. Dalam kurun waktu setelah itu, kita mengira bahwa yang harus kita lakukan adalah sekedar mewujudkan pembangunan nasional dalam artian yang sangat teknis.

Keadaannya tidaklah seperti yang kita duga itu. Semangat kebangsaan, dan dengan sendirinya juga kehidupan bernegara, ternyata merupakan suatu hal yang amat dinamis. Selain bisa tumbuh dan berkembang, juga bisa mengalami kemunduran, bahkan kehancuran. Uni Soviet dan Republik Federal Yugoslavia, adalah dua negara federal yang terbentuk dalam abad ke-20. Uni Soviet bahkan pernah menjadi negara superpower yang ditakuti di dunia. Tetapi akhirnya runtuh, dan dari reruntuhan itu telah tumbuh berbagai negara yang berbasis etnik, dalam ukuran yang lebih kecil, yang dalam masa transisi pembentukannya menimbulkan perang yang memakan banyak korban. Pecahnya Yugoslavia telah membuka kesempatan bagi terjadinya pembersihan etnik (ethnic cleansing), yang telah menewaskan ribuan warga Bosnia yang muslim.Contoh lain adalah Pakistan, sebuah negara berdasar agama Islam, yang dibentuk dengan semangat tinggi dengan cara memisahkan diri dari Republik India. Oleh karena tidak dapat memelihara keutuhannya, Pakistan juga akhirnya telah pecah secara permanen menjadi Pakistan dan Bangladesh. Pakistan sendiri sampai saat ini masih menghadap masalah besar dalam proses integrasi nasionalnya. Suku-suku yang ada, yang dalam sejarahnya amat independen, tidak mudah mengakui suatu pemerintahan pusat.

Kita tentu tidak ingin Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah melalui perjuangan yang sangat panjang dengan gugurnya begitu banyak para pejuang dan pahlawan bangsa, akhirnya harus bubar dan terpecah-pecah juga, hanya karena ketidakcerdasan kita dalam mengelolanya.

Bercermin pada pengalaman-pengalaman kontemporer yang ada tersebut, kita jangan sampai pernah menganggap bahwa proses pembentukan bangsa, serta pembentukan negara yang mengiringinya, adalah suatu upaya sederhana yang dapat ditangani sambil lalu. Struktur dan proses pembentukan bangsa dan negara merupakan suatu proses yang amat kompleks dan memakan waktu panjang. Bukan saja menyangkut pembentukan sebuah konstitusi serta sebuah pemerintahan baru, tetapi juga meliputi proses dinamis menanamkan dan memelihara semangat kebangsaan, baik ke kalangan seluruh rakyat, maupun ke dalam jajaran pemerintahan.

Semangat kebangsaan sangat bergantung pada solidaritas dan suasana saling percaya mempercayai antara sesama warga bangsa. Pengalaman menunjukkan bahwa persatuan dan kesatuan tidak dapat dipaksakan dengan kekuatan militer.
Persatuan dan kesatuan suatu bangsa harus selalu bersandar dan disandarkan pada landasan kejiwaan, baik pada kenangan sejarah masa lalu, maupun pada tekad untuk membangun masa depan yang lebih sejahtera. Bukan hanya bagi sekelompok kecil orang, tetapi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mengawal Kebangsaan

Saya dan teman-teman mendirikan Aliansi Kebangsaan untuk mengingatkan kita semua bahwa orang Indonesia mempunyai tujuan, seperti yang tercantum dalam alinea kedua Pembukaan UUD ’45, yakni Medeka, Bersatu, Berdaulat, Adil, Makmur. Sengaja kita populerkan prinsip-prinsip ini supaya orang paham mau kemana bangsa ini. Dengan demikian, tujuan Aliansi Kebangsaan adalah untuk menjaga terpeliharanya serta terwujudnya semangat kebangsaan guna mencapai tujuan Nasional serta tugas Pemerintah, yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, demi tercapainya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Saya berpendapat bahawa hanya faham kebangsaanlah yang secara mendasar bisa menyatukan berbagai golongan yang berbeda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbagai faham lainnya justru sebaliknya, karena didasarkan pada perbedaan itu sendiri, yang memustahilkan terbentuknya persatuan.

Selama ini kita beranggapan bahwa aspirasi dan kepentingan rakyat seolah-olah hanya diwakili oleh para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Padahal disatu sisi, begitu duduk menjadi anggota DPR ataupun DPD, mereka secara otomatis menjadi bagian dari kelompok elit, yang mau tidak mau akan terasing dari rakyat yang harus diwakilinya.

Untuk jangka panjang, kami berharap agar Aliansi Kebangsaan bisa merupakan jejaring sosial dari seluruh kelompok dan golongan yang ada dalam batang tubuh rakyat Indonesia, diorganisasikan sesuai dengan tingkat daerah dan pemerintahan, beroperasi secara otonom, dan hanya diikat oleh semangat kebangsaan yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Peran utama Aliansi Kebangsaan adalah untuk mengawal terpeliharanya semangat kebangsaan dalam rangkaian undang-undang, kebijakan, dan keputusan para penyelenggara Negara.

Aliansi Kebangsaan tidak untuk mencari kekuasaan bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, Aliansi Kebangsaan tidak akan tumbuh menjadi partai politik (Parpol), baik menjadi partai oposisi, atau menjadi partai yang mendukung Pemerintah. Anggota Parpol secara perorangan dapat menjadi anggota Aliansi Kebangsaan, asal sungguh-sungguh menyadari perbedaan antara keanggotaan partai politik, dan keikut sertaannya sebagai bagian dari Aliansi Kebangsaan.

Perlu kita sadari bersama bahwa semangat kebangsaan bukanlah sesuatu yang sekali jadi. Bangsa dan semangat kebangsaan adalah suatu proses panjang yang bersifat dinamis, dan mungkin tidak ada akhirnya. Semangat kebangsaan Indonesia akan mengalami pasang naik dan pasang surut, selaras dengan kinerja Bangsa dan Negara dalam mewujudkan cita-cita nasional dan tujuan negara, seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Melalui Aliansi Kebangsaan, kami dalam sebuah kelompok kecil melakukan diskusi secara rutin setiap minggu, membahas berbagai masalah mendasar bangsa dan negara, seperti soal falsafah negara Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, demokrasi, Haluan Negara, bela negara dan lain sebagainya. Para peserta diskusi tersebut antara lain, Dr. Syafroedin Bahar (almarhum), Drs. Achmad Zacky Siradj, saudara Yudi Latif Ph.D, Ansel da Lopez, serta Bapak Mayen (Purn) I Dewa Putu Rai. Dari diskusi melalui kelompok kecil ini, kami mencari topik-topik penting, untuk kemudian dibahas secara lebih luas dan mendalam dalam diskusi lanjutan yang lebih besar, baik yang diselenggarakan oleh Aliansi Kebangsaan sendiri, maupun oleh dua jaringan lainnya yang juga saya pimpin, yakni Yayasan Suluh Nuswantara Bhakti (YSNB) maupun oleh Forum Komunikasi Putra-putri dan putra-putri purnawirawan TNI/Polri (FKPPI). Atau kami lakukan secara bersama-sama.

Aliansi Kebangsaan didukung penuh oleh YSNB dan FKPPI. Hasil diskusi-diskusi kami diharapkan dapat disusun menjadi “saran kebijakan” bagi segenap pemangku kepentingan pembangunan nasional, sesuai misi pengembangan “sumber daya manusia”, yang dicanangkan Presiden Joko Widodo dalam masa pemerintahannnya yang kedua, 2019-2024.

Dalam perjalannya kami selama sembilan tahun, Aliansi Kebangsaan juga membentuk Jejaring Cendekia guna memfasilitasi para cendekiawan Indonesia dalam menggodok isu-isu kebangsaan, untuk menghasilkan rekomendasi-rekomendasi kerja kepada Pemerintah. Jaringan Cendekia ini di bawah koordinasi saudara Yudi Latif Ph.D, beranggotakan 16 orang. Antara lain, Prof. Drs. Dawam Rahardjo, Prof. Dr. H. Didin S. Dana hari SE MS.DEA, Prof. Dr. H. Asep Warlan Yusuf, SH M.H, Prof. Dr. Hariyono M. PD, Prof. Dr. Hasyim Djalal, MA, Dr. (HC) Subiakto Tjakrawardaja, serta Dr. Rosita Noer.
Kami juga membentuk Kaukus Penulis Muda untuk mengkonsolidasikan para penulis muda Indonesia dalam satu wadah bersama. Kaukus penulis ini antara lain untuk menyosialisasikan isu-isu ideologi Pancasila, Demokrasi, dan Haluan Negara. Kaukus Penulis terbuka untuk mahasiswa, akademisi, penulis/peneliti yang memiliki ketertarikan pada masalah Pancasila, Demokrasi, dan Haluan Negara.

Pada setiap penutupan tahun, kami juga mengundang para tokoh untuk berbicara, sekaligus sebagai Refleksi Akhir Tahun perjalanan Bangsa dalam setahun. Aliansi Kebangsaan juga mengadakan diskusi bulanan dengan masyarakat media, dengan mendatangkan para pembicara yang mumpuni, termasuk pimpinan Parpol. ┬áDiskusi dengan tema “Partai Politik, Ideologi, Konstitusi, dan Kepemimpinan” bertujuan untuk mensosialisasikan pemikiran-pemikiran kebangsaan partai politik, langsung dari tangan pertama. Dengan demikian masyarakat bisa mengetahui apa dan siapa partai politik tersebut, apa visi dan misinya, serta apa yang hendak diperjuangkannya.

Kami sungguh menyadari bahwa media massa, baik cetak, elektronik maupun media sosial kini telah menjadi salah satu pilar utama kehidupan berbangsa dan bernegara, mengingat dampak informasi yang disampaikan begitu luas dan besar.
Tidak ada larangan bagi anggota masyarakat manapun untuk menyampaikan pikiran dan aspirasinya. Bahkan sebagai sebuah negara demokrasi, semua penyampaian pikiran dan aspirasi itu dijamin dalam berbagai peraturan dan perundangan. Namun, semua berita, perdebatan, dan suara-suara yang disampaikan itu hendaknya tidak membingungkan dan meresahkan masyarakat. Lebih mengkhawatirkan lagi jika ada gerakan-gerakan dalam masyarakat yang menjurus ke ekstremisme dalam bentuk ajaran-ajaran kebencian, eksklusivisme dan rasisme.

Pimpinan partai politik yang memenuhi undangan kami yakni Partai Amant Nasional (PAN), yang diwakili oleh ketua umumnya sendiri, Zulkifli Hasan. Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang juga diwakili oleh ketua umumnya sendiri, Grace Natalie. Partai Hanura yang diwakili salah seorang pimpinannya, Dr. Jus Usman Sumanegara, serta Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang diwakili oleh H. Abdul Malik Haramain, S.Sos, M.Si selaku Wakil Sekjen PKB.

Menjelang pemilu serentak pertama tanggal 17 April 2019, Aliansi Kebangsaan juga mengundang beberapa tokoh yang kerap dikaitkan dengan Pilpres 2019 – 2024. Kegiatan yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) itu bekerja sama dengan Universitas Indonesia, dalam rangka mencerdaskan masyarakat dalam memilih. Dengan mendengarkan langsung pikiran dan gagasan para narasumber, diharapkan masyarakat dapat menentukan pilihannya secara cerdas. *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here